Menjaga Penyu Kepulauan Seribu

2147506penyu-air780x390Wilayah Kepulauan Seribu, khususnya sejumlah pulau di kawasan Taman Nasional Kepulauan Seribu, merupakan habitat penyu sisik (Eretmochelys imbricate). Penyu itu merupakan satu dari tujuh jenis penyu dunia.

Penyu termasuk dalam kelompok reptilia yang mendiami laut tropis dan subtropis di seluruh dunia. Selain penyu sisik, ada lima jenis lain yang ditemukan di Indonesia, yakni penyu hijau (Chelonia mydas), penyu tempayan (Caretta caretta), penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), dan penyu pipih (Natator depressus).

Habitat penyu sisik adalah perairan yang dingin, salah satunya kawasan Kepulauan Seribu Utara. Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKS) mencatat, tempat-tempat peneluran penyu sisik ditemukan di sejumlah pulau di kawasan ini, seperti Pulau Penjaliran Timur, Peteloran Timur, Penjaliran Barat, dan Pulau Belanda.

Peran penyu sisik dinilai signifikan di ekosistem laut terkait pengendalian laju pertumbuhan bunga karang yang dapat mengganggu pertumbuhan terumbu karang. Namun, penyu ini juga mengonsumsi alga, serta hewan-hewan kecil seperti udang, moluska, dan cumi-cumi.

Organisasi Internasional untuk Konservasi Sumber Daya Alam (International Union for Conservation of Nature/IUCN) menetapkan penyu sisik sebagai hewan yang terancam punah. Di alam bebas, anak-anak penyu yang baru menetas menghadapi ancaman kematian dari hewan seperti biawak, burung, dan kepiting.

Ancaman manusia

Akan tetapi, ancaman terbesar penyu adalah manusia. Pembangunan daerah pesisir, termasuk sejumlah gugusan pulau di Kepulauan Seribu, kian mengimpit habitat penyu sisik.

Perburuan penyu, baik dalam bentuk sisik, daging, maupun cangkang, pernah marak di kawasan ini hingga tahun 1980-an. Selain diolah menjadi kancing, tusuk konde, atau hiasan, sisik penyu juga dijadikan mahar perkawinan karena dianggap berharga dan langka.

Selain melindungi tempat-tempat peneluran, pelestarian penyu sisik ditempuh dengan membangun pusat penetasan, pembesaran, dan pelepasliaran, seperti di Pulau Pramuka, Harapan, dan Sepa. Petugas akan mengambil telur dari pulau-pulau tempat bertelur untuk ditetaskan semialami, seperti dilakukan Salim (64) di sisi timur Pulau Pramuka.

Anak penyu (tukik) hasil penetasan dilepas ke alam. Sebagian dipelihara untuk dilepas secara bertahap dan ”dipajang” untuk keperluan edukasi. Menurut Salim, sejak penangkaran dibangun tahun 1984, puluhan ribu tukik telah dilepas ke alam liar, baik secara periodik oleh petugas TNKS, aktivis lingkungan, maupun peserta sejumlah program penyelamatan lingkungan.

Perburuan penyu sisik di Kepulauan Seribu dinilai tak separah era tahun 1980-an. Namun, penyu menghadapi impitan akibat pembangunan pulau. Kepala Seksi Pengelolaan Wilayah III Pulau Pramuka Untung Suripto mencontohkan, pembangunan tanggul dan jalan dengan menguruk pantai di sisi timur Pulau Pramuka telah mengusik penyu.

”Sebelum tahun 2013 ada 14 sarang (telur penyu di Pulau Pramuka). Namun, tahun lalu hanya ditemukan 6 sarang. Biasanya dapat 2.000 telur, tetapi tahun lalu hanya 600-1.500 telur,” ujarnya.