Keterbatasan Lahan, Kendala Pemeliharaan Rusa di Mataram

rusaPemerintah Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, menyebutkan keterbatasan lahan menjadi kendala untuk memelihara rusa sebagai upaya menjaga populasi fauna ikon daerah ini agar tidak punah dan bisa bertambah banyak.

“Memelihara rusa membutuhkan lahan yang cukup luas, sementara lahan di kota sangat terbatas,” kata Kepala Dinas Pertanian Kelautan dan Perikanan Kota Mataram H Mutawalli di Mataram, Selasa (2/6).

Pernyataan itu dikemukakannya menanggapi keinginan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) NTB yang mendorong masyarakat untuk memelihara rusa agar populasi yang menjadi ikon daerah ini tidak punah.

Mutawalli mengatakan, kalau untuk sumber daya manusia (SDM) peternak memelihara rusa tidak masalah. Pasalnya, Kota Mataram memiliki SDM peternak yang cukup handal di bidangnya.

Akan tetapi, memelihara rusa membutuhkan lahan yang luas, karena rusa harus memiliki tempat bermain dan untuk kebutuhan pakannya. “Karena itu, untuk saat ini kita belum bisa mendukung program pemerintah provinsi tersebut,” ujarnya.

Kecuali, tambahnya, jika keberadaan Taman Selagalas yang awalnya dihajatkan sebagai kebun binatang mini bisa dihidupkan kembali.

Mutawalli mengatakan, kalau Taman Selagalas bisa dihidupkan kembali sebagai kebun binatang mini, kemungkinan bisa untuk memelihara dan mengembangbiakkan rusa.

“Bahkan tidak hanya rusa, berbagai jenis binatang langka juga dapat dilakukan, termasuk burung “koak kaok” yang menjadi ikon Kota Mataram,” katanya.

Dikatakan, Taman Selagas awalnya disiapkan menjadi kebun binatang mini, sehingga pada waktu itu pemerintah kota sudah membuat beberapa sangkar burung dengan ukuran besar dan kandang beberapa hewan yang rencananya hendak dipelihara di sana.

“Setelah pengelolaannya diambil-alih ke Dinas Pertamanan kita tidak bisa intervensi lagi. Dan saat ini Taman Selagalas menjadi pusat rekreasi tanpa ada ikon unggulan seperti taman-taman lainnya,” katanya.

BKSDA NTB menyebutkan, alasan lain mendorong masyarakat memelihara rusa, karena fauna tersebut bisa menjadi ikon kuliner NTB.

Artinya, dengan makin bertambah banyak populasi di masyarakat, pasokan untuk kebutuhan bahan baku kuliner bisa terpenuhi tanpa harus memburu di kawasan hutan lindung.

Dengan demikian, rusa tidak hanya menjadi ikon NTB tetapi juga bisa menjadi ikon kuliner. Hal ini tentu, tentu harus disertai upaya pemeliharaan di tingkat masyarakat, sehingga populasi di hutan lindung terjaga.

sumber : republika.com