Menperin: Tak Ada Alasan untuk Impor Cangkul

TERASBANTEN.com – Kementerian Perindustrian melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) empat BUMN dalam hal pemenuhan bahan baku untuk perkakas pertanian, seperti cangkul, sekop, mata garu, egrek dan dodos.

Keempat perusahaan berpelat merah itu di antaranya PT Krakatau Steel Tbk yang akan memproduksi bahan baku medium carbon steel berbentuk lembaran, lalu PT Boma Bisma Indra yang akan memproduksi bahan baku itu menjadi barang setengah jadi. Sedangkan PT Sarinah dan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia yang akan mendistribusikannya ke seluruh IKM produsen perkakas pertanian.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pun menyambut baik komitmen keempat perusahaan tersebut. Bahkan Krakatau Steel mengaku mampu memproduksi 1 koil medium carbon steel dalam waktu 7 menit yang bisa digunakan untuk memproduksi 20 ribu unit cangkul.

“Ini luar biasa. Mestinya dalam waktu 1 jam sudah 1 juta. Tidak ada 1 hari 10 juta bisa,” tuturnya di Gedung Kemenperin, Jakarta, Kamis (5/1/2017).

Airlangga yakin dengan komitmen keempat BUMN tersebut akan mampu memenuhi kebutuhan cangkul dalam negeri yang mencapai 10 juta unit per tahun. Dengan begitu dia mempertegas Indonesia tidak lagi harus impor perkakas pertanian dari China.

“Jadi tidak ada alasan untuk impor. Untuk kebutuhan pacul 10 juta itu pasti sudah pasti tersedia,” imbuhnya.

Menurutnya, selama ini adanya impor perkakas pertanian lantaran minimnya pasokan bahan baku di hulu. Sehingga harga dari produk perkakas pertanian dalam negeri tidak bersaing.

“Harganya mudah-mudahan lebih murah dibanding pacul impor jadi harga bersaing dan kualitas juga bersaing,” pungkasnya. @DF