Ketimpang si Kaya dan si Miskin Turun, Sri Mulyani Sebut Healthy

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terjadi penurunan tingkat ketimpangan atau gini ratio dari 0,397 pada Maret 2016 menjadi 0,394 pada September 2016. Tren enurunan ini pun akan terus dipertahankan oleh pemerintah.

“Kita masih ada tantangan. Kalau kita lihat dari gini rasio meskipun kita tidak buruk-buruk amat alami perbaikan dalam 1 tahun terakhir. Ini tren yang yang dicoba ditekan,” tutur Menteri Keuangan Sri Mulyani, Jakarta, Jumat (3/2/2017).

Menurutnya, capaian ini dan komitmen pemerintah untuk menurunkan ketimpangan patut diapresiasi. Pasalnya, ketimpangan Indonesia masih lebih baik dibandingkan negara lainnya.

“Sebagai orang yang pernah bekerja di World Bank, ini sangat healthy. Di Amerika latin bahkan sampai 0,5,” jelasnya.

Menurutnya, ketimpangan hingga saat ini memang masih terjadi. Hal ini terlihat dari dominasi Pulau Jawa bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

“Apalagi kalau kita lihat ketimpangan, Jawa masih dominan aktivitas ekonomi. Pertumbuhan Ekonomi Jawa masih stabil. Ekonomi Jawa sangat stabil karena diversifikasi, dia begitu diversifikasi,” jelasnya.

Hanya saja, pertumbuhan ekonomi Sumatera selalu dibawah jawa. Padahal, ekonomi Sumatera seharusnya dapat tumbuh hingga di atas 6%.

“Coba kita lihat Jawa, Bali dan Sulawesi di mana pertumbuhan selalu diatas 5,5% Dan sulawasi bisa 7%. Ini bukan karena wapres dari sana. Tapi karena ada diversifikasi, dia punya komoditi, dan pertanian. Ini yang harus dilihat kembali,” tutupnya. @NIKO