Bukan Selalu Faktor Genetik, Ternyata Ini Faktor yang Memicu Terjadinya Kanker

Kanker tergolong sebagai penyakit tidak menular yang mulai meningkat trennya akibat gaya hidup yang tidak sehat. Kanker payudara dan kanker serviks menjadi kasus kanker yang tertinggi di kalangan para perempuan. Sementara kanker paru dan kanker kolorektal menjadi dua momok penyakit para laki-laki.

Permasalahan mencegah kanker di Indonesia ini menjadi kendala. Menurut Kementerian Kesehatan RI pada 2016, hal ini disebabkan ole kesadaran masyarakat, faktor sosial, yang menyebabkan sekira 70 persen penderita kanker ditemukan di stadium lanjut.

Apapun jenis kankernya, menurut Prof DR Dr Ayu Wisaksono Sudoyo, SpPD, KHOM, FACP, kanker sesegera mungkin perlu dilakukan deteksi dini. Pasalnya, kanker bila dibiarkan dalam waktu dalam bisa menjadi ganas.

“Kanker jinak kalau ia bermutasi dengan dan akan menjadi ganas. Ini menunjukkan ada penonjolan perubahan dan penyebaran,” terang Prof Aru di Kantor Yayasan Kanker Indonesia, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (5/5/2017).

Karena deteksi dininya yang terlambat, Prof Aru mengakui banyak pasien yang datang ke rumah sakit ketika ia sudah menginjak kanker stadium 3 dan 4. Bagaimanapun, setiap orang perlu memupuk kesadaran untuk melakukan deteksi dini dan pencegahan, dengan mengubah gaya hidup.

Pencegahan yang dapat dilakukan misalnya, dengan menghindari asupan alkohol, melindungi kulit dari paparan sinar UV, jaga berat badan dengan diet seimbang, tidak merokok, dan melakukan aktivitas fisik.

“Faktor-faktor risiko kanker itu 90 persen pengaruh lingkungan dan 5-10 persen saja pengaruh dari faktor keturunan,” ungkapnya.

Berdasarkan Riskesdas 2013, prevalensi kanker di Indonesia cukup tinggi, mencapai 1,4 per 1.000 penduduk atau sekira 347.000 orang. Menurut Sistem Informasi RS 2010, menjadi penyebab kematian ketiga setelah stroke dan jantung.

“Kita harus menghentikan pada masih di awal, bukan saat saat kanker bermestasatsis” tukas Prof Aru. @SINTA