Pekan Pendidikan 2017 Dorong Masyarakat Cerdas Digital

Terdapat kesenjangan pemahaman dan penguasaan alat-alat digital antara orang tua dan guru dengan anak dan murid. Sang anak adalah digital native, sementara orang tua adalah digital immigrant. Orang tua dirasa perlu untuk sama-sama belajar agar melek digital.

Pesta Pendidikan (PeKan), jaringan berbagai pemangku kepentingan pendidikan, dalam puncak acara Festival Publik di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan fX Sudirman Jakarta, menghasilkan satu tekad untuk mendorong literasi masyarakat terkait komunikasi digital melalui gerakan “Cerdas Digital”.

Penggagas “Cerdas Digital” yang juga pendiri Think.Web, Ramya Prajna, menjelaskan memasuki abad ke-21 ini arus informasi dan pertukaran pesan bergulir amat deras. Masyarakat kerapkali belum mencapai tingkat kematangan dalam hal konsumsi dan produksi informasi, sehingga masih belum bijak dalam memilah dan memproses informasi. Apalagi, untuk menjadikannya referensi pengambilan keputusan.

“Untuk mewujudkan masyarakat yang melek digital dan mampu memanfaatkan potensi digital secara positif, maka anak, guru dan orang tua sama-sama perlu diedukasi, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah,” ujar Ramya Prajna, Ahad (21/5).

Ramya berpendapat generasi orang tua lah yang paling merasa kesulitan untuk menilai apakah suatu berita adalah valid atau tidak. Generasi orang tua justru paling rentan terpapar oleh hoax. Semakin besar kesenjangan pengetahuan di antara orang tua dan anak, membuat orang tua makin tidak percaya diri ketika berdiskusi tentang hal-hal terkini bersama anak.

Ramya menambahkan pesan-pesan yang merujuk pada paham radikalisme, kampanye politik secara negatif, dan pornografi sangat mudah menyebar luas melalui jejaring sosial digital. Kebijaksanaan pengguna dalam memanfaatkan media ini amat penting.

Cerdas Digital digagas Ramya dengan cara mengembangkan kurikulum, program, serta alat bantu untuk membangun kecerdasan digital anak, guru dan orang tua. Salah satu inisiatifnya adalah kegiatan Satu Jam Cerdas Digital di Sekolah dan di Rumah.

Anak dan orang tua bisa berdiskusi secara terbuka mengenai baik buruknya teknologi digital sehingga kedua belah pihak saling memahami. Orang tua dan anak juga bisa membuat kesepakatan bersama dalam penggunaan gawai.

Untuk memperluas cakupan dan manfaatnya, Ramya mengatakan, Cerdas Digital akan mengembangkan kegiatannya melalui program pilot di 160 sekolah yang tersebar di 5 kota.

Kelima kota yang dipilih ini dipertimbangkan dari sisi tingginya penetrasi internet, warganya memiliki aset gawai secara signifikan, dan merupakan kota yang memecahkan masalah pendidikannya dengan bantuan teknologi. Cerdas Digital juga menyelenggarakan program pelatihan bagi pelatih (training of trainers) untuk menguatkan kapasitas.

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Ari Santoso menyatakan sangat potensial untuk mengaitkan inisiatif ini dengan program sosialisasi internet positif ke sekolah-sekolah yang telah dijalankan oleh Kemdikbud.

“Kami dapat membantu menyediakan sumber daya dalam bentuk konten terkait pendidikan serta mengoordinasikan program Cerdas Digital dengan satuan satuan pendidikan di bawah Kemdikbud,” kata Ari. Ari juga mengatakan Kemdikbud dapat berkontribusi terhadap penyediaan fasilitator pelatihan dalam jumlah lebih banyak. @KIE